Jumat, 20 Oktober 2017

Resume hadis larangan jual beli

Nama   :Indah Permatasari
NIM     : 931405016
Dosen Pengampu: Ana Fadilah,Lc,MA.

Hadis Larangan Jual Beli
  1. Pengertian Jual Beli
Kata jual beli berasal dari bahasa Arab, jual pada bahasa arab dikenal dengan istilah al-bay’ dari ba’a-yabi’u yang berarti menjual. Dan kata beli yaitu al-syira dari kata syara yang berarti membeli. Secara etimologi, jual beli diartikan sebagai pertukaran sesuatu dengan yang lain atau memberikan sesuatu untuk menukarkan sesuatu yang lain.[1]
Definisi jual beli sejalan dengan firman Allah bahwa jual beli harus didasarkan pada keinginan sendiri dan atas dasar suka sama suka, sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Nisa ayat 29 :
       “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”[2]
B.     Transaksi yang diharamkan
1.      Menjual barang yang sudah dibeli atau ditawar orang lain
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَبِيعُ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ
“'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah sebagian dari kalian membeli apa yang dibeli (sedang ditawar) oleh saudaranya".[3]
2.      Minuman keras dan sejenisnya (Narkoba)
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ سَمِعْتُ أَبَا الضُّحَى يُحَدِّثُ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ
لَمَّا أُنْزِلَتْ الْآيَاتُ الْأَوَاخِرُ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَلَاهُنَّ فِي الْمَسْجِدِ فَحَرَّمَ التِّجَارَةَ فِي الْخَمْرِ
“Abu Adluha bercerita dari Masruq dari Aisyah dia berkata; Tatkala turun beberapa ayat terakhir dari surat Al Baqarah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar lalu membacakannya di masjid. Kemudian beliau mengharamkan jual beli minuman keras.”[4]
  1. Barang najis
حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ لْحَذَّاءُ عَنْ بَرَكَةَ بْنِ الْعُرْيَانِ الْمُجَاشِعِيِّ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمْ الشُّحُومُ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا حَرَّمَ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ ثَمَنَهُ
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semoga Allah melaknat kaum Yahudi. Telah diharamkan lemak atas mereka, namun mereka menjualnya dan memakan harganya (hasil penjualan). Dan sesungguhnya Allah 'azza wajalla apabila mengharamkan memakan sesuatu, maka Dia pun mengharamkan juga harganya (hasil penjualannya)."[5]
  1. Gharar yaitu jual beli yang tidak jelas, mengandung unsur ketidakpstian/spekulasi, dan penipuan.
أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
“dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang dari menjual dengan cara hashah (jual beli, dan jual beli gharar (tidak jelas)."[6]
  1. Hashat yaitu jual beli yang tidak jelas luasnya, dengan cara melelpar hashat (batu kecil) pada tempat batu itu jatuh, itulah tanah yang terjual. Model ini dilarang karena mengandung unsur ketidakpastian atau spekulasi.
و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو أُسَامَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dan Yahya bin Sa'id serta Abu Usamah dari Ubaidillah. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb sedangkan lafazh darinya, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari 'Ubaidillah telah menceritakan kepada kami Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang jual beli dengan cara hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur penipuan.[7]
  1. Nitaj yaitu jual beli hasil binatang ternak sebelum memberikan hasil, misalnya jual beli susu yang masih berada dalam kantong. Model ini juga dilarang karena mengandung unsur ketidakpastian atau spekulasi.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَتَبَايَعُونَ لُحُومَ الْجَزُورِ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ قَالَ وَحَبَلُ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَا فِي بَطْنِهَا ثُمَّ تَحْمِلَ الَّتِي نُتِجَتْ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ
"Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah telah mengabarkan kepada Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata; Dahulu orang-orang jahiliyyah menjual daging anak unta yang masih dalam kandungan. Dia berkata; Yang dimaksud dengan habalul habalah adalah unta dibeli berupa apa yang ada dalam kandungannya kemudian unta tersebut mengandung apa yang diperjual belikan itu, maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang praktek jual beli seperti itu."[8]
  1. Mulamasah dan Munabadzah
Mulamasah adalah si penjual dan pembeli menyentuh pakaian yang dijual atau barangnya tanpa perlu memeriksa atau membukanya. Dan Munabadzah adalah penjual menjajakan pakaian yang dimiliki untuk dijual dan pembeli tidak memegang atau melihat barang tersebut. Dengan demikian, diharamkan jual beli apapun jika pembeli tidak bisa memeriksa barang tersebut karena ditakutkan akan timbulnya kecurangan dari pihak penjual.[9]
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ وَعَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُلَامَسَةِ وَالْمُنَابَذَةِ
"Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada Malik dari Muhammad bin Yahya bin Habban dan dari Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang mulamasah dan munabadzah".[10]
  1. Muhaqolah dan Muzabanah
Muhaqolah yaitu jual beli tanaman yang belum dituai atau panen, dan muzabanah yaitu jual beli kurma yang masih ada dipohonnya. Model ini juga dilarang karena mengandung unsur ketidakpastian atau spekulasi
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ
“Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Asy-Syaibaniy dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang Al Muhaqalah (jual beli buah yang masih ditangkai dengan gandum) dan Al Muzabanah (jual beli kurma yang masih dipohon dengan kurma yang sudah dipetik).”[11]
  1. Mukhadarah yaitu kurma hijau atau yang belum tampak matangnya. Model ini dilarang karena mengandung unsur ketidakpastian atau spekulasi.
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُخَاضَرَةِ وَالْمُلَامَسَةِ وَالْمُنَابَذَةِ وَالْمُزَابَنَةِ
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Wahab telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada Ishaq bin Abi Tholhah Al Anshari dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang dari Al Muhaaqalah (jual beli buah yang masih ditangkai dengan gandum), Al Mukhodharoh (jual beli buah atau biji-bijian sebelum matang), Al Mulaamasah (terjadi jual beli jika calon pembeli memegang barang dagangan), Al Munaabadzah (jual beli dengan melempar barang dagangan) dan Al Muzaabanah (jual beli kurma yang masih dipohon dengan kurma yang sudah dipetik)."[12]
  1. Habalil habalah adalah jual beli anak unta yang masih didalam perut, dan akan dibayar jika unta tersebut melahirkan dengan jenis kelamin tertentu.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَتَبَايَعُونَ لُحُومَ الْجَزُورِ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ قَالَ وَحَبَلُ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَا فِي بَطْنِهَا ثُمَّ تَحْمِلَ الَّتِي نُتِجَتْ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ
"Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah telah mengabarkan kepada Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata; Dahulu orag-orang jahiliyyah menjual daging anak unta yang masih dalam kandungan. Dia berkata; Yang dimaksud dengan habalul habalah adalah unta dibeli berupa apa yang ada dalam kandungannya kemudian unta tersebut mengandung apa yang diperjual belikan itu, maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang praktek jual beli seperti itu."[13]
  1. Talqi jalab adalah petani membawa hasil panen kekota, kemudian orang kota menjual dengan harga yang ditetapkan sendiri. Jual beli ini dilarang karena dapat mengakibatkan pemasok tunggal, karena itu harus dijual dipasar terbuka.
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كُنَّا نَتَلَقَّى الرُّكْبَانَ فَنَشْتَرِي مِنْهُمْ الطَّعَامَ فَنَهَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى يُبْلَغَ بِهِ سُوقُ الطَّعَامِ
قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ هَذَا فِي أَعْلَى السُّوقِ يُبَيِّنُهُ حَدِيثُ عُبَيْدِ اللَّهِ
“Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Juwairiyah berkata, dari Nafi' dari 'Abdullah radliallahu 'anhu berkata: "Kami dahulu biasa menyongsong kafilah dagang lalu kami membeli makanan. Maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang kami membelinya hingga makanan tersebut sampai di pasar makanan". Berkata, Abu 'Abdullah Al Bukhariy: "Ini larangan untuk transaksi diluar pasar sebagaimana dijelaskan oleh hadits 'Ubaidullah".[14]
  1. Hadir al-Ibad yaitu monopoli dengan tujuan harga yang tinggi
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَبَّاحٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ الْحَنَفِيُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ
"Telah menceritakan kepada 'Abdullah bin Shabbah telah menceritakan kepada kami Abu 'Ali Al Hanafiy dari 'Abdurrahman bin 'Abdullah bin Dinar berkata, telah menceritakan dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang orang kota menjual untuk orang desa": Hadits ini telah dikomentari oleh Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma."[15]
  1. Najsy yaitu membeli barang karena mendengar akan naik lalu dijual dengan harga yang tinggi ketika harga sudah naik
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ النَّجْشِ
"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dari Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam melarang (jual beli) najasy (penipuan)."[16]
  1. Ikhtikar yaitu penimbunan gandum atau barang hanya untuk menaikkan harga dengan sengaja. Iman abu Hanifah membatasi hukum pelarangan ini hanya pada gandum, imam Yusuf untuk semua hal yang mana penimbunan itu akan membahayakan kepentingan umum.[17]
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ سَالِمِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَالِبُ مَرْزُوقٌ وَالْمُحْتَكِرُ مَلْعُونٌ
"Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Ali bin Salim bin Tsauban dari Ali bin Zaid bin Jud'an dari Sa'id bin Al Musayyab dari Umar bin Khaththab ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang mencari nafkah itu diberi rizki dan orang yang menimbun itu dilaknat."[18]





[1] Idri, “Hadis Ekonomi, Ekonomi Dalam Perspektif Hadis Nabi”( Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2015), Hal.155
[2] al-Qur’an al-Karim, keluaran kelima edisi 6.50 (Sakhr,1997) QS.al-Nisa (4); 29

[3] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009) BUKHARI-1995
[4] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009) BUKHARI-4177
[5] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009) AHMAD - 2546
[6] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009) NASAI - 4442
[7] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009( MUSLIM - 2783
[8] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009( BUKHARI 355
[9] Ilfi Nur Diana, Hadis-Hadis Ekonomi (Malang : UIN MALIKI PRESS (Anggota IKAPI,2012),Hal.122
[10] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009(BUKHARI - 2002
[11] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009(BUKHARI - 2038
[12] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009(BUKHARI - 2055
[13] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009(BUKHARI - 3555
[14] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009(BUKHARI - 2021
[15] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009(BUKHARI - 2014
[16] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009(BUKHARI - 6448
[17] Ilfi Nur Diana, Hadis-Hadis Ekonomi (Malang : UIN MALIKI PRESS (Anggota IKAPI,2012),Hal.126
[18] Lidwa Pustaka i Sofware, Kitab 9 Imam Hadist (2009( IBNUMAJAH-2144

Resume hadis jual beli dan riba

Nama   :Indah Permatasari
NIM     : 931405016

Dosen Pengampu: Ana Fadilah,Lc,MA.

Hadist Jual Beli dan Riba
A.    Jual-beli
1.      Pengertian Jual-Beli
Jual-Beli dalam bahasa arab terdiri dari dua kata yang mengandung makna berlawanan yaitu Al-Bai’ yang artinya jual dan Asy syira’a yang artinya beli. Dengan demikian, jual beli adalah penukaran harta (dalam pengertian luas) atas dasar saling rela atau tukar menukar suatu benda (barang) yang dilakukan antara dua pihak dengan kesepakatan (akad) tertentu atas dasar suka sama suka.

2.      Hukum Jual-beli
Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat  275 yang artinya :
” Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”[1].

Hadits



“ Dari Rifa’ah bin Rafi sesungguhnya Nabi Saw pernah ditanya, pekerjaan apakah yang paling baik, Rosulullah menjawab : seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan tiap-tiap jual beli yang mabrur (dengan cara halal dan baik).
Memperhatikan ayat dan hadits tersebut dapat diambil pengertian bahwa jual beli, berdagang atau membuka jenis-jenis usaha produksi dibidang ekonomi,  dibenarkan bahkan dianjurkan dalam islam.
Syariat Islam menggariskan beberapa hukum jual beli yaitu :
a.       Mubah, artinya jual beli itu boleh, ini merupakan hukum asal jual beli.
b.      Sunnah, yaitu jual beli yang dilakukan terhadap orang yang sangat membutuhkan barang yang diperjualbelikan itu,
c.       Wajib, yaitu menjual harta peninggalan orang tuannya untuk melunasi hutang-hutangnya ketika masih hidup
d.      Haram, yaitu jual beli yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang melanggar dari syariat Islam, misalnya : penipuan, mengicuh dan lain sebagainya.

3.      Hadits-hadits tentang Jual-beli
عن عبد الله بن عمر ر ضي ا لله عنهما  عن ر سو ل ا لله صل ا لله عليه و سلا م : أ نه قا ل إ ذ ا تبا يع الر جلا نن فكا ل وا حد منهما با لخيا ر ما لم يتفر قا و كا ن جميعا أو يخير أ حد هما الآ خر فتبا يعا على ذ لك فقد و جب البيع وإن تفرقا بعد أ ن يتبا يعا ولم يتر ك واحد  منهما   البيع فقد و جب البيع

“ Dari Abdullah bin Umar r.a, dari Rosulullah SAW, beliau bersabda,jika dua orang saling berjual-beli, maka masing-masing diantara keduannya mempunyai hak pilih selagi keduanya belum berpisah, dan keduanya sama-sama mempunyai hak, atau salah seorang diantara keduanya memberi pilihan kepada yang lain lalu kedua nya menetapkan jual beli atas dasar pilihan itu maka jual beli menjadi wajib.”
“ Ada hadis yang semakna dari hadist Hakim bin Hizam, dia berkata, Rosulullah SAW bersabda, dua orang yang berjual beli mempunyai hak pilih selagi belum berpisah, atau beliau bersabda, Hingga keduannya saling berpisah, jika keduannya saling jujur dan menjelaskan, maka keduannya saling menyembunyikan dan berdusta, maka barakah jual beli itu dihapuskan.”[2]

B.     RIBA
1.      Pengertian Riba
Riba menurut Kamus bahasa arab berarti penambahan, pertumbuhan, kenaikan dan ketinggian, kelebihan. Kata riba juga telah dicakup dalam kata Usury dalam bahasa inggris. Usury diartikan dalam bunga yang terlalu tinggi atau berlebihan.
Secara etimologis, riba berarti perluasan, pertambahan dan pertumbuhan. Baik berupa tambahan material maupun inmaterial, baik dari jenis barang itu sendiri maupun dari jenis lainnya. Pada masa pra-islam, kata riba menunujukkan suatu jenis transaksi bisnis tertentu, dimana transaksi tersebut mengindentifikasikan jumlah tertentu dimuka (fixed amount) terhadap modal yang digunakan. Secara garis besar riba terjadi pada utang-piutang dan jual beli

 Riba menurut syaria’at dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :
 “ Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan Jual-beli dan mengharamlan riba.....” (Al-Baqarah :275) [3]

Selain itu juga Allah berfirman :
 “ Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.....”(Al-Baqarah : 276).
Dan Allah juga berfirman :“Dan tinggalkan lah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman. Jika kalian tidak mengerjakannya (meninggalkan riba ), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rosul-Nya akan memerangi kalian ” ( al-Baqarah : 278-279)[4]

Adapun dalil yang terkait dengan perbuatan Riba, ini berdasarkan Al-Qur’an. Diantara ayat tentang riba sebagai berikut.
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan .” ( Q.S Ali Imran :130)

“ Dan sesuatu Riba (tambahan ) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalannya). (QS. Ar-Rum:39).



2.       Hadist tentang Riba
عن أ بي سعيد الاخد ر ي قال ر سو ل الله صلى الله عليه و سلم الذ هب ب لذ هب وا لفضة  ب لفضة و البر ب لبر و الشعر بالشعر و لتمر بالتر و الملح بالملح مثلا بمثل يد ا بيد فمن ز اد بيد فمن زا د او استز اد فقد ار بى الا خد و المعطى فيه سوا ء
“Diriwaytkan oleh Ibnu Sa’id al-khudry bahwa Rosulullahbersabda : “emas hendaklah dibayar dengan emas. Perak hendaklah dibayar dengan perak. Gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ketangan(cash), barang siapa pemberi tambahanatau memiliki(penerima) tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan dengan riba, penerima dan pemberi sama-sama salah”. (HR. Muslim)[5]

3.      Hukum Riba
Riba hukumnya haram dan Allah melarangnya sebagaimana yang telah dijelaskan diatas dalm surah Al-Baqarah ayat 275.
“ Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan Jual-beli dan mengharamlan riba.....”(QS. Al-baqarah:2(275)

4.      Dampak melakukan Riba
 “Dari Jabir r.a. Rosulullah telah melaknat (mengutuk) orang yang memakan Riba, wakilnya, penulisnya, dan dua saksinya.” (HR. Muslim).[6]
“ Dari Abdullah Ibnu Mas’ud r.a bahwa Nabi SAW bersabda : “ Riba itu mempunyai 73 pintu, yang paling ringan ialah seperti seorang laki-laki menikahi ibunya dan Riba yang paling berat ialah merusak kehormatan seorang Muslim.” (HR. Ibnu Majah)



Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mu’min yang suci berbuat zina”. (Bukhari, Bab Ramyul Muhsanat, No. 6351)

“Dari Ibnu Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seseorang yang memperbanyak riba, melainkan akhir perkaranya akan merugi”. (Ibn Majah, bab Taglidh fir riba, no 2270).
5.      Aplikasi Riba dalam kehidupan sehari-hari
-          Misalnya seperti ini, Ani ingin meminjam uang ke ana. Na, minjem duit  dong Rp.50.000, lalu Ana menjawab, BOLEH asalkan dengan syarat kamu mijetin aku sejam. Nah, dari hal seperti itu sudah termasuk riba. Jadi selain Ani harus membayar uang Rp.50.000, Ani juga harus memijet Ana selama satu jam. Dengan tambahan syarat sebuah pijitan saja HARAM apalagi ditambah Uang.
-          Misalkan seperti ini, Aku jual Jam ini kepada kamu Rp.50.000 kontan tapi kalo Kredit Rp.55.000.” namun ketika berpisah ia tidak bersepakat dalam satu harga, apakah akan mengambil yang Kontan atau Kredit. Jadi antara penjual dan pembeli bersepakat dalam transaksi tanpa menentukan penjualan mana yang akan diambil.




[1] Asy-Syafi’i, Imam Syafi’i, Pembahasan Shalat, Jual –Beli SUNAN SYAFI’I  Jilid 1
[2] Kathur Suhardi, Edisi Indonesia : Syarah hadist pilihan Bukhari Muslim, (jakarta : Darul Falah, 2002), hal. 580
[3] Achmad Sunarto,  Imam Nawawi, Terjemah RIYADHUS SHALIJIN Jilid 2 (Jakarta : Pustaka Amani, Cet.Iv, Rabiul Awal 1420 H/ Juli 1999 M ) hal. 492
[4] Achmad Sunarto,  Imam Nawawi, Terjemah RIYADHUS SHALIJIN Jilid 2 (Jakarta : Pustaka Amani, Cet.Iv, Rabiul Awal 1420 H/ Juli 1999 M ) hal.492
[5] Muhammad Ayub. Understanding Islamic Finance, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009)
[6] Achmad Sunarto,  Imam Nawawi, Terjemah RIYADHUS SHALIJIN Jilid 2 (Jakarta : Pustaka Amani, Cet.Iv, Rabiul Awal 1420 H/ Juli 1999 M ) hal.493